MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
PRODUCT
My Life
MY LIFE

Waspada Donasi Online Tanpa Izin!

 

Memanfaatkan rasa iba seseorang, tipuan donasi ini bahkan bisa dengan gampang mencatut nama seseorang untuk mengharapkan ‘donasi’ tersebut.

 

Zaman sekarang, mengumpulkan dan menyalurkan donasi jadi makin mudah sejak adanya kehadiran media sosial dan internet. Berbagai website dan akun medsos seakan berlomba buat jadi wadah crowdfunding (penggalangan dana) untuk memberikan sumbangan kepada orang-orang (bahkan kadang menyebutkan sasaran secara spesifik) yang membutuhkan bantuan, bisa karena suatu penyakit, kemiskinan, bencana alam, dan sebagainya. Melihat hal sedih seperti ini, pastinya kita sebagai pihak yang merasa lebih beruntung, sedikit banyak bakal muncul rasa iba dan kasihan, sehingga tergerak untuk memberi bantuan kepada mereka yang lebih butuh.

 

Tapi ternyata, crowdfunding atau penggalangan dana yang malang melintang di media sosial dan internet nggak selamanya punya izin resmi dari seseorang yang menjadi objek donasi. Beberapa dari oknum yang membuka kesempatan untuk berdonasi justru melakukannya secara diam-diam, tanpa meminta persetujuan dari pihak yang menjadi objek sumbangan.

 

NAMA KELUARGANYA DICATUT UNTUK MINTA DONASI

Hal ini sempat kejadian sama Dita (bukan nama sebenarnya), seorang karyawan swasta yang nama keluarganya dicatut untuk kepentingan donasi. Kepada Happifyourworld, Dita bercerita kalau ia mempunyai seorang kakak kandung bernama Dio (bukan nama sebenarnya) yang mengalami down syndrome dan sering menghabiskan waktu di masjid dekat rumahnya. Suatu hari Dita dan keluarganya didatangi oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai mahasiswa dan berencana membuat dokumentasi video tentang aktivitas Dio untuk tugas akhir.

 

“Karena kakak saya seorang down syndrome, ia punya kegiatan yang sama setiap harinya. Salah satunya adalah pergi ke masjid itu, “ cerita Dita.

 

Setelah mendapat izin, akhirnya kelompok ini membuat rekaman video pendek tersebut tanpa memberi preview atau hasil akhirnya kepada pihak keluarga Dita. Nggak ada kecurigaan apapun karena keluarga Dita hanya berniat membantu mahasiswa yang membuat tugas untuk kelulusan. Tapi selang beberapa hari, Dita diberi info kalau video sang kakak beredar di akun Instagram penggalang dana independen. Di sana dijelaskan kalau Dio, adalah pengurus masjid yang menderita down syndrome dan mendapat santunan berupa uang Rp 50 ribu setiap harinya untuk menjaga masjid. Awalnya nggak ada yang salah dengan video tersebut, tapi yang bikin Dita dan keluarga kaget, di akhir video ada keterangan penggalangan donasi untuk Dio. Melihat ini, Dita langsung menghubungi akun tersebut untuk minta klarifikasi.

 

“Bukannya apa-apa, karena di awal katanya buat tugas akhir dan nggak ada embel-embel untuk menggalang sumbangan. Mahasiswa ini jadi seperti memanfaatkan kakak saya untuk konten. Ini malah dijadikan video untuk minta donasi di Instagram tanpa izin, seakan uang 50 ribu itu jadi alasan kakak saya untuk ke masjid setiap harinya. Ini juga bikin keluarga saya malu karena dianggap nggak mampu untuk merawat kakak saya sampai harus minta sumbangan.”

 

Klarifikasi baru diberikan akun tersebut setelah Dita memposting kasus ini di Instagram pribadinya, dan mendapat dukungan dari followers-nya yang ikut meninggalkan komentar protes di akun donasi tersebut. Tim donasi tersebut akhirnya diminta Dita untuk menghapus video tersebut dan berkunjung ke rumah untuk menjelaskan masalah yang ada. Setelah bertemu dengan Ayah Dio, tim donasi ini akhirnya meminta maaf atas konten yang mereka buat di Instagram.

 

 

MENYUMBANG NGGAK DILARANG, ASALKAN...

Kasus Dio mungkin bukan satu-satunya yang menjadi kelemahan dari sistem donasi online yang sedang marak. Bukan cuma tanpa izin atau catut nama, udah banyak juga kasus penipuan berkedok donasi yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum nggak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan.

 

Tapi bukan berarti hal ini bikin kita stop untuk berdonasi dan menolong orang lain ya. Perhatikan hal-hal berikut ini sebelum kita memutuskan untuk berdonasi via online!

 

Kenali lembaga penyalur donasi, mulai dari alamat, nomor telepon, serta review dari donatur yang pernah melakukan donasi ke lembaga tersebut. Lembaga donasi online biasanya mempunyai website resmi yang terurus dengan baik. Perhatikan juga kegiatan rutin yang pernah dilakukan oleh lembaga tersebut. Dengan begitu, kita jadi tau apakah lembaga tersebut terpercaya atau justru menjadi cara untuk melakukan penipuan.

 

Teliti juga latar belakang calon penerima donasi.  Supaya nggak kejadian kayak kasus Dio tadi, penting banget untuk kita mencari tau latar belakang sosok yang menjadi calon penerima donasi. Bukan cuma bermodal video dan foto-foto yang dipajang di akun lembaga pengumpul donasi aja, tapi kita bisa mencari tau lewat nama lengkapnya dari internet. Jadi kita yakin kalau donasi yang kita berikan akan diserahkan ke orang yang tepat dan tentunya bukan nama catutan.

 

Kalau ada yang mencurigakan, segera laporkan ke pihak yang berwajib. Seperti halnya memberi donasi, udah gampang juga melaporkan kejahatan digital ke pihak yang berwajib kalau-kalau kita menemukan adanya kejanggalan pada situs atau akun media sosial yang melakukan donasi online. Jangan segan untuk melaporkan hal-hal yang mencurigakan, untuk menghindari orang-orang ikut terjebak dalam penipuan berkedok donasi online.

 

 


Foto: Shutterstock, eramadani.com, centralpennparent.com, business.com

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates