MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
PRODUCT
What's Now
WHAT'S NOW

Belajar Dari Film Netflix Social Dilemma

 

belajar dari netflix social dilemma

Film dokumenter produksi Netflix ini seakan menyadarkan kita soal gimana media sosial dan dunia internet mempengaruhi mental dan bikin ketergantungan. Btw, spoiler alert!

 

Film The Social Dilemma yang resmi dirilis oleh Netflix bulan September kemarin, menceritakan secara detail gimana pengaruh penggunaan media sosial ke kesehatan mental. Dokumenter ini menghadirkan para mantan petinggi dari produk-produk digital seperti Google, Facebook, Instagram, Pinterest, dan sebagainya, yang punya kekhawatiran soal etika dan efek media sosial ke para penggunanya. Di film ini mereka ngejelasin gimana algoritma media sosial bekerja, penggunaan data pribadi, sehingga pengguna media sosial disebutkan adalah ‘produk’ dan sasaran empuk buat para perusahaan atau brand yang beriklan di sana.

Bukan cuma wawancara, film ini juga dilengkapin sama ilustrasi kasus yang relate banget sama semua orang, apalagi usia remaja kayak kita. Apa aja yang bisa remaja pelajari dari film ini? Yuk kita bedah! 

 

MEDIA SOSIAL MEMUPUK RASA KECANDUAN KE PENGGUNANYA

belajar dari netflix social dilemma

Ilustrasi dalam film The Social Dilemma nyeritain soal gimana kekhawatiran orangtua tentang anaknya yang nggak bisa lepas dari media sosial. Sehari-harinya, mereka nggak bisa jauh dari smartphone dan nunjukkin adanya rasa ketagihan saat menatap konten media sosial. Ada rasa gelisah dan awkward saat nggak ngeliat media sosial, padahal saat itu lagi ngumpul sama keluarga yang bisa diajak ngobrol di dunia nyata, hanya karena koneksi ke dunia luar juga udah nggak terbatas lagi. Sayangnya, semua orang dari usia manapun cenderung sulit untuk lepas dari dunia maya kalau udah ketagihan banget.

Tristan Harris, mantan desainer estetika Google yang diwawancara dalam film ini menganalogikan media sosial ini ibarat sulap, yang mana pesulap pastinya udah menguasai cara berpikir kita saat ngeliat sulap, bahkan tanpa kita sadari. Kita mudah terpesona dengan ‘ilusi’ yang ditampilkan oleh media sosial, hal-hal menarik yang kita lihat, mendorong penggunanya untuk tetap stay di depan layar, tanpa mikirin udah berapa lama waktu yang dihabiskan, informasi yang kita dapat valid atau hoax, serta kadang udah nggak ngerasa bermasalah kalau memberi komentar negatif ke akun yang kita nggak suka. Tapi itulah yang justru sengaja dibentuk oleh media sosial. Semua kontennya persuasif, bikin kita keasyikan. Saat kita terus-terusan ngeliat media sosial, di situlah si konsumen sebenarnya - yaitu pemasang iklan - dengan bebas mendaratkan iklan-iklan yang bisa menjangkau kita sesuai target. Dengan begitu, produk yang mereka pasarkan akan diketahui lebih cepat, bahkan terjadi proses pembelian saat iklan tersebut berhasil bikin kita tertarik dan beli.

belajar dari netflix social dilemma

Dalam film ini, dua remaja yang jadi contoh ketergantungan sama media sosial juga jadi memperlihatkan apa efek yang dia dapat, walaupun itu secara nggak sadar. Misalnya, susah lepas dari smartphone saat harus kumpul keluarga, ngecek media sosial sampai tengah malam dan akhirnya terlambat sekolah, hingga kehidupannya yang makin nggak teratur. Mereka juga digambarkan terjebak dalam perasaan yang palsu, karena adanya timbal balik dari hasil postingan mereka berupa likes atau komentar. Alhasil, patokan kita terhadap sesuatu jadi diukur dari seberapa banyak likes dan komentar yang kita dapat di setiap postingan, dan ini bakal berpengaruh sama kehidupan kita sehari-hari.

Di film ini juga, DR. Anna Lembke, Stanford Uni School of Medicine Medical Director of Addiction Medicine juga bilang kalau media sosial itu bersifat seperti obat. Karena saat kita bisa berkoneksi dengan banyak orang secara nggak terbatas, bikin adanya pelepasan zat dopamine dalam tubuh yang muncul saat kita ngelakuin aktivitas yang menyenangkan. Tapi kita nggak sadar kalau hal menyenangkan yang kita dapat dari media sosial bisa bersifat semu dan palsu, sehingga kita menggabungkan itu sama realita di dunia nyata, dan bikin kita ketagihan buat ngelakuin hal tersebut lagi dan lagi.

 

 

MEDIA SOSIAL MEMUNCULKAN RASA INSECURE TINGGI PADA PENGGUNANYA

belajar dari netflix social dilemma

Salah satu tokoh remaja lainnya di sini adalah si adik perempuan yang usianya menginjak remaja seperti kita. Sosoknya digambarkan lebih ekstrim, baik dari sisi kecanduan, juga dari sisi efek psikologis lain yang timbul karena terus-terusan ngeliatin media sosial, yaitu insecurities.

Kalau orang dewasa aja bisa dengan gampang terkena adiksi dari media sosial dan dunia maya, tentunya remaja juga akan terkena dampak yang sama, bahkan bisa lebih parah. Karena faktanya, media sosial nggak didesain untuk jadi wadah yang bisa melindungi mental seseorang dan memastikan kalau yang diterimanya akan selalu baik. Media sosial bukan tempat yang tepat buat anak-anak, bahkan mantan presiden Pinterest dan eksekutif Facebook, Tim Kendall yang juga diwawancara dalam film ini bilang kalo dirinya nggak mengizinkan anak-anaknya punya media sosial sampai nanti mereka berusia dewasa. Soalnya udah pasti dirinya mengetahui dampak yang akan terjadi dari produk yang ia buat tersebut. Miris kan?

belajar dari netflix social dilemma

Konten di media sosial yang ‘bebas’ ini bisa dengan gampang mempengaruhi emosi remaja dalam masa pertumbuhannya. Begitu juga dengan kita yang nge-share konten, media sosial dilengkapi berbagai fitur manipulasi seperti kemudahan untuk mengambil konten berkali-kali buat ngedapetin hasil yang bagus, kemudahan buat mempertontonkan sesuatu yang sifatnya ingin dilihat orang, serta filter yang bisa mempercantik dan mengoreksi tampilan yang sesungguhnya. Jadi begitu kita terus-terusan ngeliat kesempurnaan dalam media sosial, semakin lama akan mempengaruhi sisi psikologis kita dan membentuk kecemasan atau insecurities, nggak percaya diri, menyalahkan keadaan dan diri sendiri karena nggak bisa seperti orang-orang yang kita lihat di media sosial.

Di The Social Dilemma, digambarkan si anak perempuan tersebut berusaha menggunakan filter berlebihan buat mencapai standar cantik, karena nggak pede dengan penampilannya sendiri. Ketidak puasan sama penampilan ini bisa memicu gejala depresi yang bisa semakin parah kalau nggak cepat-cepat ditanggulangi. Di Amerika sendiri, Jonathan Haidt, PhD, NYU Stern School of Business Social Psychologist nyebutin kalau angka depresi dan kecemasan yang dialami remaja menanjak cepat di antara tahun 2011 dan 2013, dan terus naik. Seenggaknya, ada 100 ribu remaja perempuan yang dibawa ke Rumah Sakit karena berusaha melukai diri dan bunuh diri, terlebih yang ngelakuin hal ini adalah di rentang usia 10 sampai 19 tahun. Tentunya, hal ini nggak lepas dari peranan media sosial dan dunia maya yang melekat sama generasi-generasi kita.

 

 

LALU, KITA HARUS GIMANA NIH?

belajar dari netflix social dilemma

Selain dua hal di atas, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari buruknya media sosial kalau kita sebagai penggunanya nggak bijak. Semua narasumber yang diwawancara pada film The Social Dilemma, sejatinya adalah orang-orang yang punya kekhawatiran soal media sosial yang terus menerus meracuni kehidupan penggunannya, seperti narkoba. Kita jadi males ngapa-ngapain selain liat media sosial, kita jadi kaku dalam berinteraksi secara langsung, kita jadi cenderung ngebandingin hasil ‘pamer’ orang dengan diri sendiri, dan sebagainya. Makanya, film ini punya pesan yang cukup kuat supaya kita bisa lebih berhati-hati lagi dalam penggunaan media sosial. Bahkan, semua narasumber di sini mengharapkan adanya aturan tegas yang berlaku buat melindungi masyarakat dari efek buruknya. Begitu juga kita sebagai pengguna media sosial, harus cukup peka dan sadar kalau apa yang ditampilkan di sana harusnya nggak 100 persen mempengaruhi kehidupan kita di dunia nyata. Ada beberapa hal yang bisa kita terapin supaya tetap punya kehidupan yang balance dan nggak kecanduan media sosial:


Foto: Shutterstock, Screencap from Social Dilemma

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates