MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
PRODUCT
My Life
MY LIFE

Self-Healing : Pentingnya Kita Menerima Diri Sendiri

 

Setiap orang pernah mengalami kekecewaan. Rasanya, kenyataan yang terjadi selalu nggak sesuai sama apa yang kita harapkan. Nggak sedikit orang jadi terpuruk, berujung menyalahkan diri sendiri dan trauma buat mencoba lagi. Tapi, apa kita harus begini terus saat menghadapi kegagalan?

 

Memang susah rasanya buat nerima kegagalan dari apa yang udah kita harapkan. Nilai ujian yang jelek saat kita udah mati-matian belajar, gagal masuk universitas negeri yang udah kita impi-impikan, putus sama pacar pas lagi sayang-sayangnya, semua usaha yang udah kita coba terasa sia-sia dan nggak ada gunanya. Seringnya, kita jadi menyalahkan diri sendiri, susah move on, dan jadi malas buat mencoba hal yang sama sekali lagi karena takut gagal. Ditambah koalo kita sering membandingnya diri dengan orang lain yang berhasil, wah makin-makin deh bikin diri makin terpuruk.

 

Tapi, bukan berarti semua luka atas kegagalan yang kita alami harus selamanya bertahan di dalam diri. Trauma yang membekas sebenarnya bisa kita sembuhkan dengan langkah self-healing, di mana kita memilih untuk berdamai dengan diri sendiri, sehingga rasa sakit dan kecewa yang membekas bisa hilang seiring waktu.

 

Kenapa Kita Harus Self-Healing?

Dalam psikologi, self-healing adalah teknik menyembuhkan luka batin yang ada di dalam diri akibat orang lain atau diri sendiri yang sampai menyebabkan trauma hingga saat ini . Tujuannya lebih kepada gimana kita bisa lebih memahami diri sendiri, bisa menerima, hingga akhirnya kita bisa memaafkan dan menghilangkan segala trauma akan kegagalan yang terjadi di masa lalu. Di sini, kita bakal belajar gimana bisa berpikir positif dan menerima sisi ketidak sempurnaan kita sebagai proses penyembuhan, tentunya dengan waktu yang nggak buru-buru. Karena biar bagaimanapun, cuma kita yang bisa menyembuhkan luka batin yang pernah terbentuk, supaya nggak terus-terusan menyalahkan diri sendiri dan keadaan atas kenyataan pahit yang pernah menimpa kita, serta mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

 

Bagaimana Memulai Self-Healing?

Kunci dari self-healing sendiri adalah self-accepance atau menerima keadaan diri seutuhnya. Perlu diingat kalau kita bukan seseorang yang harus selalu melakukan apapun dengan sempurna tanpa cacat. Kita bisa banget kok melakukan salah, keliru, gagal, dan itu adalah hal yang manusiawi banget. Dengan belajar untuk self-acceptance, kita jadi bisa lebih menghargai diri sendiri dan jadi  mengevaluasi kembali apa yang justru nggak baik buat kita. Sudah siap? Coba langkah berikut untuk memulainya.

 

Maafkan diri kita atas kegagalan atau trauma masa lalu. Kita nggak akan bisa move on dari masalah yang ada kalau pikiran dan perasaan kita masih stuck di hal itu-itu saja. Rasanya masih ‘nyes’ saat mikirin hal itu, dan terjadi berulang-ulang. Tapi kita perlu inget kalau hidup itu selalu jalan ke depan, bukan sebaliknya. Alasan untuk terus memikirkan kegagalan  terus menerus justru nggak bikin kita bisa berkembang. Say sorry to yourself if you think you need it, maafkan juga kesalahan orang yang pernah bikin kita gagal dan sakit hati. Dengan memaafkan, bakal ada perasaan lega yang muncul, karena udah ada komitmen untuk menyudahi rasa sakit yang selama ini mengganjal. Walaupun kita belum bisa lupa dan masih sakit, tapi langkah ini bakal ngasih perubahan signifikan terhadap gimana kita menanggapi kegagalan masa lalu, dan juga ke depannya.

 

Berhenti mengoreksi dan mengkritik diri sendiri. Penyesalan memang selalu datang belakangan, dan ini yang bikin kita jadi terus-terusan menyalahkan diri sendiri. ‘Kenapa dulu kita selalu melakukan A, kenapa nggak melakukan B’, kritikan yang bertubi-tubi dari kepala sendiri justru musuh utama saat kita pengen berdamai sama diri sendiri. Saat melakukan self-healing, berhenti sejenak untuk memberi koreksi dan kritik yang berujung menyalahkan diri sendiri. We are enough, nothing less. Nggak perlu memberi kritik berlebihan ke diri sendiri soal masalah yang udah berlalu, ataupun overthinking sama langkah apa yang perlu kita lakukan nantinya. Karena gagal adalah hal yang biasa, dan bisa menimpa siapapun walau udah melakukan persiapan sebelumnya.

 

Stop membandingkan diri dengan orang lain. Percaya deh, walaupun tujuannya sama, setiap orang punya keunikan, proses, dan timeline-nya masing-masing. Kita dan teman sekelas, atau sahabat terdekat sekalipun pasti punya cara tersendiri buat menghadapi masalah dan tantangan yang dialami. Dan ini pastinya ngaruh banget sama hasil yang bakal didapat, misalnya kalau menghadapi masalah dengan panik, atau dengan tenang, atau malah emosional, tentunya proses yang dijalanin dan hasilnya nggak akan sama. Nikmatin semua proses yang kita jalani sendiri, tanpa harus ngebandingin sama orang lain yang kadang bikin kita jadi pengen keliatan sama. Belajar juga buat menikmati kegagalan yang mungkin kita hadapi nantinya, tanpa ngerasa takut buat mencoba lagi dan lagi. Gagal tes beasiswa, coba lagi di tahun depan! Putus sama pacar, siapkan diri untuk move on dan ngebuka hati untuk kesempatan baru. That’s the art of life! Nggak perlu buru-buru, karena self-acceptance juga berarti menerima keadaan kita baik lagi senang maupun lagi dalam keadaan gagal sambil menikmati prosesnya.

 

Gimana Kalau Self-Healing Kita Gagal?

Sounds cliche, but the truth is... it takes time to heal. Butuh niat yang beneran kuat untuk menyembuhkan dan menerima diri, juga waktu yang nggak sebentar sampai kita benar-benar ngerasa kalau semua hal yang bikin kita terpuruk di masa lalu ternyata cuma kerikil kecil yang bikin kita belajar banyak hal di masa sekarang. Ibarat zaman kecil kita jatuh dan luka pas belajar sepeda, kita nangis dan ngerasa perih, sampai akhirnya sembuh karena kita menganggap hal itu biasa dan nggak pernah kapok buat mencoba lagi. Dan sekarang? Ya kita lancar-lancar aja tuh naik sepedanya.

 

At the end, kitalah yang menentukan mau move on atau nggak dari masalah yang kita hadapi. Mau atau nggak kita menyembuhkan diri sendiri dari rasa sakit di masa lalu. Hasil yang didapet juga nggak bisa instan, dengan begitu kita  bakal belajar gimana cara mencintai diri sendiri dan pastinya lebih chill dalam menghadapi masalah yang menghampiri kita.

 

 


Foto: Shutterstock , unsplash.com (Fuu J), pointebrodiecreek.com, dwb4congress.com

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates