MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
PRODUCT
My Life
MY LIFE

Pointing Finger, Jadi Jahat karena Menghakimi Kesalahan Orang

 

menghakimi kesalahan orang lain

 

Menghakimi kesalahan orang lain di media sosial saat ini sangat mudah, semudah menjentikkan dua jari. Lewat kata-kata pedas yang kita ketikkan di keyboard sambil bersembunyi di balik akun anonim, jadi cara yang normal dan "biasa aja" buat dilakukan. Namun, bukankah kita yang bersikap seperti ini justru terasa lebih jahat dibandingkan dengan orang yang kita serang?

 

ZARA DAN KEJADIAN IRONIS YANG DILAKUKANNYA

Beberapa waktu lalu, dunia maya digemparkan dengan kasus Adhisty Zara, seorang public figure yang memposting video kurang senonoh yang ia lakukan bersama pacarnya. Walaupun kini videonya udah dihapus, tapi sayangnya masih lebih cepat dari jari netizen yang udah nge-save video tersebut itu dan menyebarkannya di media sosial. Nggak cuma itu, Zara pun akhirnya dibully dan dihujat oleh netizen yang menganggap kelakuannya di video tersebut nggak pantas karena bersimpangan dengan peran serta pesan yang dia sampaikan di film "DUA GARIS BIRU". Oke, tindakan Zara emang nggak bisa dibenarkan karena bisa ngasih pengaruh buruk. Tapi apa harus dihakimi sebegitunya?

 

NGGAK KENAL MAKA…NGGAK APA-APA DIHAKIMI??

Masalah Zara tadi mungkin cuma satu dari sekian banyak kasus yang menyoroti soal gimana orang lain ngerasa gampang banget ngasih penghakiman ke orang yang ngelakuin kesalahan. Hal ini seakan lumrah-lumrah aja buat dilakukan, padahal sebenarnya ngasih dampak yang negatif banget lho. Menurut Elizabeth Dorrance Hall Ph.D. dalam artikel di Psychology Today, setiap manusia punya yang namanya atribusi, yaitu suatu proses gimana cara kita menilai seseorang. Atribusi ini terbagi jadi dua, yaitu atribusi atas kepribadian yang melekat, dan juga atribusi situasional yang bikin seseorang bisa dinilai berdasarkan situasi yang lagi terjadi saat itu aja.

 

Nah, penelitian juga nemuin kalau orang cenderung suka melebih-lebihkan sisi ‘kepribadian dan nutup mata atas ‘situasi saat lagi bikin atribusi, terutama ke orang yang nggak mereka kenal dengan baik. Saat kita bikin penilaian buat orang yang kita kenal baik dan hubungannya dekat, kecenderungan ini jadi berubah. Kita mungkin bakal mikir lebih jauh alasan spesifik kenapa orang tersebut bisa ngelakuin kesalahan, sebelum akhirnya bikin judgement. Makanya, hal ini justru bikin seseorang ngerasa makin leluasa buat nyinyir tanpa beban saat nggak kenal sama si ‘tersangka’. Ya, namanya juga nggak kenal, kan?!

 

Menghakimi kesalahan orang lain

 

ALASAN KENAPA SEBAGIAN ORANG SUKA MENGHAKIMI KESALAHAN ORANG

Saat menilai dan menghakimi orang lain yang punya salah, seseorang cenderung ngerasa benar, superior, dan ngerasa sebagai individu yang lebih baik karena nggak melakukan kesalahan tersebut. Ego kita sebagai manusia dibikin berbunga-bunga nih, karena lagi di posisi lagi tanpa cela kalau dibandingin sama sosok yang lagi ngelakuin kesalahan. Apalagi di era sekarang, tindakan menghakiminya juga lebih ke arah sanksi sosial, mulai dari kalimat-kalimat menyalahkan di kolom komentar, bikin thread sendiri di Twitter dan bahas panjang lebar, bahkan bisa melenceng dari topik utama atau ngelibatin pihak lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan kasus di ‘yang punya salah’. Kalau dari kasus Zara ini, para netizen bahkan berbondong-bondong ngebanjirin kolom komentar dari akun Instagram para brand yang menggandengnya jadi Brand Ambassador, dan ngomporin untuk mengganti Zara dengan orang lain. Nggak peduli apapun situasinya, posisi sang ‘hakim-hakim kecil’ ini udah pasti ngerasa benar dan pendapatnya perlu dipertimbangkan.

 

Dalam kajian ilmiah “The Neural Basis of Altruistic Punishment” dalam website Sciencemag, ternyata rasa puas dari menghakimi orang lain yang punya salah ini berdampak ke otak manusia, dan efeknya mirip banget kayak seseorang saat ngedapetin hadiah. Wah, ngeri banget nggak sih kalau ternyata kita ketagihan dan selalu merasa terpuaskan saat menghakimi kesalahan orang lain?

 

BUKAN HAK KITA BUAT MENGHAKIMI ORANG LAIN, KENAPA?

Terlepas dari nggak pantasnya kelakuan seseorang, pointing finger dan menghakimi orang lain tuh nggak bisa dibenarkan. Sadar atau nggak, kita udah jadi ikutan jahat karena kata-kata pedas yang nggak kalah jahat. Kita jahat karena menyakiti perasaan orang lain, sedangkan kesalahannya belum tentu punya imbas langsung ke kita sendiri. Belum lagi kalau topik yang dibahas udah berbelok jauh ke arah fisik, menghina keluarga, bahkan perang komentar sama orang lain padahal sama-sama nggak punya kepentingan. Punya pandangan boleh, hanya aja ada beberapa alasan  kenapa kita harus pintar-pintar ngerem dan nggak menghakimi kesalahan orang lain.

 

Belum tentu kita lebih baik

Mungkin kelihatannya kita sekarang nggak lagi melakukan kesalahan tersebut. Tapi bukan berarti kita lebih baik dari orang yang udah kita hakimi. Nggak ada manusia yang sempurna dan nggak punya salah, dan tentunya kita pun pasti bisa melakukan kesalahan walaupun beda versi.

 

Coba posisikan diri kita di orang yang melakukan kesalahan tersebut. Kita pun pasti bakal nggak suka kan mendapat penghakiman dari orang lain

Saat kita mulai kepikiran buat ngasih judgement ke orang, posisikan diri kita jadi orang yang melakukan kesalahan tersebut. Apa kita bakal suka dihakimi? Apa kita bakal tahan melihat orang-orang menyalahkan kita atas kesalahan yang udah terjadi, dan itu keluar dari orang yang nggak kenal sama sekali? Kalau jawabannya ‘nggak’ semua, artinya kita nggak perlu ngelakuin judgement pedas.

 

Bukan hak kita buat mengatur hidup orang lain

Setiap orang punya cara tumbuh, didikan, dan cara mereka buat ngejalanin kehidupannya masing-masing. Bisa jadi, nilai yang selama ini kita anut sehari-hari beda banget dengan orang lain di luar sana. Dan balik lagi, segala tindakan salah punya konsekuensinya masing-masing, dan tentunya bukan kita (yang bahkan nggak kenal sama sekali) berhak nilai-nilai kesalahan orang lain. Be open minded, bukan jadi setuju sama kesalahannya dan ngerasa itu baik-baik aja, tapi secara terbuka menerima kalau nggak semua hal harus sejalan sama apa yang kita yakini benar. Justru, kesalahan yang terjadi bisa kita jadikan refleksi untuk bisa tetap berpegang teguh sama nilai yang udah kita percaya.

 


Foto: Shutterstock

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates