MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
PRODUCT
My Life
MY LIFE

Orang Tua Toxic Harus Gimana Menghadapinya?

 

orang tua toxic

Udah seharusnya keluarga jadi sosok terdekat yang bikin kita aman dan nyaman. Tapi, bagaimana kalau justru kita yang jadi korban dari sikap toxic parents atau orang tua toxic?

Kita mungkin pernah denger kalimat “blood is thicker than water” atau “family first” yang diartiin kalau keluarga adalah segalanya dalam segala hal, dan bakal selalu jadi yang paling utama. Tapi, nggak sedikit dari kita yang justru merasa orang tua adalah lingkungan pengin banget kita jauhi saking toxic-nya.

Fenomena toxic parents atau orang tua toxic sebenarnya bukan hal baru dan bisa jadi beberapa dari kita mungkin mengalaminya. Istilah ini menggambarkan bagaimana perlakuan orang tua yang justru lebih sering menyakiti, mengganggu, membuat nggak nyaman, apalagi sampai bisa merusak sisi psikologis kita sebagai anak, baik secara sadar ataupun nggak sadar.

 

CIRI-CIRI TOXIC PARENTS

orang tua toxic

Nggak Mau Dengerin Orang Lain

Saat kita ngobrol sama orang tua, kadang mereka ngeluarin gestur nggak mau dengerin kata-kata kita dengan cara menyela omongan, mengoreksi, sampai ngebandingin diri kita sama mereka saat muda. Intinya, orang tua selalu merasa mereka benar dan tau apa yang baik buat kita. Padahal, kebutuhan tiap individu jelas beda dan nggak bisa dibandingkan sama siapapun, atau dengan apapun.

 

Emotional Moocher

Orang tua toxic ini sifatnya selalu bisa menghisap aura positif dari diri kita, dan cuma memberikan hal-hal negatif dan pesimis buat kita. Umumnya mereka nggak bisa ngeliat hal-hal yang positif dari semua kejadian, apapun kelihatannya nggak ada harapan dan selalu menuju ke arah negatif terus. Bahayanya, omongan dari orang-orang seperti ini bisa banget lho mempengaruhi pemikiran kita untuk setuju dengan sisi negatif dia.

 

Controlling People atau Mengkontrol Orang Lain

Punya orang tua yang control freak sampai bikin kita sebel? Well, mereka juga salah satu dari ciri-ciri toxic parents nih! Biasanya, mereka suka banget mengendalikan segala sesuatu dan semua orang di sekitarnya, and it can be in a negative way, asalkan semua berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka akan terus berusaha meyakinkan kita untuk mengambil keputusan sesuai dengan yang dia katakan.

 

Judgemental dan Sering Banget Membandingkan Apapun dengan Orang Lain

Kita dapat rangking dua, bukannya diselamatin malah ditanya "kok bukan rangking satu? Pasti kamu belajarnya kurang deh!!" Yup, orang tua toxic selalu merasa kurang puas dan selalu iri dengan pencapaian orang lain yang akhirnya selalu membandingkan dan menghakimi, bahkan menyalahkan anak sendiri. Mereka nggak akan melihat usaha dan kerja keras kita, menurut mereka kita sebagai anak harus berada di atas segalanya. Ini juga bisa disebut over-proud atau bangga berlebihan. Di satu sisi, hal ini bisa jadi "cambuk" penyemangat buat kita berusaha lebih baik lagi, tapi di sisi lain, hal ini akan membuat energi fisik maupun mental kita terkuras. Lagian siapa sih yang tahan terus-terusan dicambuk tanpa ada waktu istirahat atau jeda buat kita sedikit bernapas.

 

Mengapa ada toxic parents dan dianggap wajar?

Bukan rahasia kalau orang tua selalu ingin anaknya menjadi kebanggaan dan bahagia. Di satu sisi, orang tua merasa cara didik yang diterapkan ini adalah untuk kebaikan dari si anak ke depannya. Merasa kalau cara didik yang mereka pakai adalah cara terbaik untuk membentuk karakter seorang anak. Biasanya, cara yang dipakai orang tua dalam mendidik anak nggak akan jauh berbeda dengan latar belakang didikan yang mereka dapat, karena didikan yang mereka dapat dulu pun berhasil mencetak diri mereka seperti sekarang. They are totally fine with that.

Sifat toxic ini pun jadi turun temurun dari generasi ke generasi. Misalnya, kebiasaan orang tua yang terus-terusan mengkritik, mulai dari bentuk badan, dibanding-bandingin sama saudara yang keliatannya lebih unggul, mengekang, selalu diatur dan nggak memberi hak buat memilih, nggak boleh mencampuri urusan keluarga hanya karena kita ada di posisi anak, sampai ada juga yang nggak memberi support terhadap mimpi dan cita-cita sang anak. Di mata orang tua, ini adalah cara terbaik, demi kebaikan sang anak. Padahal, secara nggak sadar memupuk budaya bully di keluarga sendiri, menyakiti secara mental, dan menghambat anak untuk jadi mandiri dengan pilihan mereka sendiri.

Bukan cuma hal-hal yang kelihatannya ‘keras’ aja, pola asuh yang cenderung memanjakan, selalu mengikuti kemauan anak, bahkan berambisi dan terlalu membanggakan si anak dibanding orang lain juga sama buruknya. Anak diarahkan untuk selalu mendapatkan apa yang dimau, dengan cara apapun. Jadi inget cerita film Willy Wonka, di mana 4 anak yang dimanja dan dididik dengan super ambisius oleh orang tuanya justru mendapat akibat yang buruk?

 

 

Apa Dampaknya Buat Kita Sebagai Anak?

orang tua toxic

Sedihnya kondisi toxic parents atau orang tua toxic ini akan sangat mungkin berpotensi membuat anak menjadi toxic parents pula ketika dewasa nanti. Antara merasa perlakuan toxic parents itu adalah hal yang wajar atau normal, atau jadi ajang "balas dendam" yang secara nggak sadar tertanam di benak kita.

Hal ini pun didukung sebuah studi oleh Journal of Family Medicine and Disease Prevention, yang mengatakan ada konsekuensi negatif ketika anak tumbuh di dalam keluarga disfungsional. Anak akan punya kecendrungan untuk berlaku negatif, misalnya menjadi pengguna obat terlarang sebagai pelarian. Selain itu, anak akan punya rasa percaya diri yang rendah, panikan, cemas berlebihan, dan nggak bisa percaya sama orang lain. Emosi negatif yang menumpuk, akan berakibat ke kondisi mental jangka panjang dan akan berpengaruh besar dengan cara kita menjalani hidup.

 

Lalu bagaimana menghadapi toxic parents?

 

Takut, panik, tertekan, sampai ada rasa malas untuk berinteraksi dengan keluarga sendiri adalah gejala paling umum kalau kita sedang berada dalam lingkungan orang tua toxic. Sebelum menyerah dan pasrah sama keadaan, kita bisa kok bangkit dan mengubah keadaan. Karena biar bagaimanapun, sudah saatnya kita berani bertindak untuk meraih kebahagiaan kita sendiri. Berikut ini yang bisa kita lakukan untuk menghadapi orang tua toxic:

 

1. Belajar Berusaha untuk Selalu Bangkit dan Mandiri

Kalau orang tua toxic selalu merendahkan setiap keinginan dan cita-cita yang ingin kita lakukan, usahain untuk menutup kuping dan bersikap cuek. Orang tua umumnya cenderung selalu mengganggap apa yang mereka pilihkan untuk anaknya adalah yang terbaik, padahal belum tentu juga. Cuma hal ini wajar kok, karena tiap orang tua nggak mau melihat anaknya gagal, hanya aja terkadang cara mereka terlalu berlebihan. Di sinilah kita harus buktikan dengan hasil, tunjukkin yang kita lakukan bukanlah hal yang sia-sia dan kita bisa 'hidup' darinya. Karena pada akhirnya, bukan cuma orang tua tapi kita juga kan nggak mau jadi orang yang gagal. Dan yang tahu kerja keras yang kita lakukan adalah diri kita sendiri, jadi belajarlah untuk tetap selalu bangkit walaupun ada tantangan yang munculnya dari orang tua sendiri  

Butuh tekad kuat untuk membuktikan kita bisa, berusaha sendiri untuk mewujudkan cita-cita, jadi mandiri baik secara mental dan finansial, hingga akhirnya orang tua percaya kalau apa yang mereka khawatirkan – yang terkadang juga meremehkan- justru jadi sesuatu yang bisa mereka banggakan.

 

2. Tunjukkan Kalau Kita Pribadi yang Tegas dan Punya Pola Pikir Kritis

Tegas di sini maksudnya adalah kita sadar dengan setiap keputusan yang kita ambil. Sadar sama risiko dan berani untuk bertanggung jawab, bukan sekedar tegas tapi asbun alis asal bunyi. Kita ingin berdebat dengan orang tua ketika pendapat mereka bertentangan dengan kita? Boleh banget. Tapi tunjukkan dengan tegas kenapa kita menentang keputusan tersebut, dan kalau perlu tunjukkin landasannya kenapa hal tersebut nggak bisa kita terima. Dengan begini, orang tua yang toxic pun akan pelan-pelan melihat kita bukan sebagai anak yang hanya pasif, tapi juga sebagai sosok yang punya pemikiran dan keputusannya sendiri. Mereka adalah orang tua kita, tapi kita juga sebagai anak berhak untuk mendapatkan respek.

 

3. Menjauh (SELF DISTANCING) Bila Sangat Diperlukan

Hal ini hanya bisa dilakukan bila keadaannya sudah semakin parah. dan nggak bisa ditolerir lagi. Sudah melakukan berbagai cara tapi orang tua toxic nggak berubah sedikit pun, sedangkan mental kita semakin menurun. Inilah saatnya berpikir untuk kita mengambil keputusan menjaga jarak atau menjauh sejenak dari keluarga (self-distancing). Ini nggak salah kok, dan beberapa pakar psikologis pun menyarankan hal yang sama. Hal ini kita lakukan demi menghindari rasa sakit berlipat-lipat dan berharap dengan adanya periode menjauh ini masing-masing pihak bisa berpikir tenang untuk mencari solusi.

Tapi musti diingat, self-distancing dari keluarga bisa berbagai macam arti. Apabila kita mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarga (misalnya tinggal sendiri atau tinggal sama keluarga lain), pikirkan dengan matang kelebihan dan kekurangannya. Karena meninggalkan keluarga butuh perencanaan yang matang, bukan sekedar keluar rumah aja, apalagi kalau kita nggak mandiri secara finansial. jadi jangan mengambil keputusan cuma karena emosi semata, bangun obrolan dengan keluarga lain atau bila perlu minta bantuan dari orang ketiga yang lebih profesional (misalnya psikiater) yang menurutmu bisa memberi solusi terbaik atas masalah yang kita hadapi.

 

 

3. Jangan Pernah Sekalipun Membenci Orang Tua

Se-toxic-toxic nya orang tua, nggak ada gunanya membenci dan terus-terusan menyalahkan mereka. Mereka akan tetap jadi keluarga kita, dan akan selalu jadi tempat kita untuk ‘pulang’. Put yourself in their shoes, kita nggak pernah tau apa yang melatar belakangi sifat toxic yang ada di diri keluarga kita, baik itu pola didik terdahulu, masalah internal, sehingga kita ikut terkena imbasnya. Mungkin kita nggak bisa memaklumi hal ini, tapi yang bisa kita lakukan adalah mengubah pola pikir kita sendiri supaya nggak meng-copy cara yang menurut kita salah. Toh kitapun udah pernah merasakan bagaimana nggak enaknya berada di sekitar toxic parents, dan ini akan menjadi pegangan kita saat membangun keluarga nanti.

 


Foto: Shutterstock

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates