MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
FIRST PERIOD
PRODUCT
My Life
MY LIFE

Kenapa Orang Tua Harus Stop Membandingkan Anak Mereka

 

Kenapa orang tua harus stop membandingkan anak mereka? Simpel, alasannya karena dibandingkan itu gak enak dan efeknya banyak. Tapi kenapa ya banyak orang tua masih sering melakukannya?

 

“Lihat tuh adek kamu. Rajin, gak males-malesan kayak kamu”

“Kamu diet dong. Biar kayak anaknya Tante Bambang tuh, badannya bagus, enak dilihatnya”

“Hebat ya si A. Udah jadi direktur sampai bisa beliin orang tuanya rumah. Bangga banget pasti orang tuanya”

Apakah kamu pernah menerima kalimat seperti di atas dari orang tuamu?

 

Perlu diakui, banyak orang tua sering membandingkan anak mereka dengan tujuan memotivasi supaya si anak jadi lebih baik. Namun, yang sering terjadi efeknya malah sebaliknya. Alih-alih bersemangat, anak akan menjadi down dan melukai self-esteem  (kepercayaan diri) mereka. Sering dibandingkan juga bisa menimbulkan luka hati dan tanpa disadari anak tumbuh jadi keras sama dirinya sendiri.

 

Beberapa waktu lalu Happifyourworld mengadakan mini discussion mengenai family issue, dengan hasil polling 89% pernah mengalami dibandingkan dengan orang lain. Dan dari 94% yang merasa kesal atau marah kepada keluarga mereka sendiri, ada isu mengenai ekspektasi orang tua.

 

Untuk disclaimer, artikel ini bukan untuk mengkoreksi orang tua kita, tapi sebagai reminder untuk mereka dan juga kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik di masa depan.

 

KENAPA SIH ORANG TUA MEMBANDINGKAN ANAK MEREKA DENGAN ORANG LAIN?

Tiap orang tua pasti ingin dan berharap anaknya meraih kesuksesan di tiap aspek kehidupan, tapi kadang mereka lupa kalau ini tuh gak bisa diraih dengan cara membandingkan hidup seseorang dengan orang lain.

Dilansir dari Quora, ada beberapa alasan kenapa orang tua kita melakukan hal ini:

·       Orang tua kita dibesarkan dan tumbuh dengan cara yang sama, selalu dibandingkan. Sehingga otomatis mereka melakukan hal yang sama ke kita, anaknya.

·       Orang tua kita takut kehilangan pengaruh dan kontrol akan diri kita ketika kita dewasa nanti. Ketika kita sudah tahu apa yang kita inginkan, yang terbaik versi kita, dan hal tersebut bertentangan dengan ideologi mereka.

·       Orang tua tahu tentang tekanan remaja (peer pressure), jadi mereka takut anak mereka ada kemungkinan tumbuh gak sesuai dengan apa yang mereka ekspektasikan.

·       Orang tua kita menyamakan kehidupan kita dengan kehidupan mereka dulu semasa muda, dan dikaitkan dengan reputasi keluarga. Ketika kita harus jadi lebih baik (atau setara dengan pencapaian orang tua), sehingga keluarga bisa lebih dibanggakan dibanding sebelumnya.

 

Ayu (45), salah satu orang tua yang Happifyourworld interview bilang kalau dia tumbuh dengan selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang lebih baik secara akademis. Dan tanpa sadar hal tersebut dia lakukan juga ke anaknya. “Perspektif aku pas jadi anak dan orang tua itu berubah. Padahal dulu aku gak suka lho kalau dibandingin gitu, tapi gimana ya. Pas udah jadi ortu, aku mau anakku itu jadi lebih dibanding yang lain”

 

 

 

DAMPAK KE ANAK KETIKA SERING DIBANDINGKAN.

Sari (23thn) bilang ke Happifyourworld kalau akibat dibanding-bandingkan terus sama orang tuanya, dia jadi ngerasa gak deket sama orang tuanya sampai sekarang. “pas 18thn aku keluar rumah karena selalu berantem sama nyokap dan kakak. Dan tiap ketemu, masih selalu dibanding-bandingin sama tiap orang. Aku ngerasa gak punya self-worth, ini bikin aku insecure dan tertutup.”

Selain cerita Sari, dampak lainnya ke anak karena sering dibanding-bandingkan yaitu:

 

#1. PERSAINGAN ANTAR SAUDARA MENINGKAT

Perbedaan perlakuan dari orang tua akan mebuat anak merasa harus berkompetisi untuk ngedapetin kasih sayang orang tua. Selain bisa memicu pertengakaran diantara saudara, efek jangka panjangnya sesama saudara akan menjauh.

Baca artikel Persaingan Antar Saudara untuk lebih detailnya

 

#2. MENJAGA JARAK KARENA RASA INSECURE

Karena sering dibandingkan dengan orang lain, anak akan merasa gak aman dan berusaha menjaga jarak dari orang tua mereka sendiri. Hubungan yang kurang baik antar orang tua – anak bisa mempengaruhi karakter anak di masa depan. And you will wondering why they never say anything to you.

 

#3. POTENSI JADI GAK MAKSIMAL

Tiap anak punya kelebihan dan potensi yang unik. Kalau tiap orang tua menggunakan standar yang sama di tiap anak, ya udah pasti si anak gak bisa mengembangkan apa yang mereka miliki karena ngerasa gak pernah dihargai.

 

#4. SULIT MENCINTAI DIRI SENDIRI

Karena dia akan terus meragukan dirinya dan berpikir dia gak akan pernah cukup. Mempertanyakan harga dirinya di mata orang tua karena terus dibandingkan dengan orang lain. Ini bahaya karena berpotensi ke penyakit mental.

 

#5. JADI PEMBERONTAK

 

Lebih ekstrim, si anak bisa jadi ngerasa dirinya udah gak berharga, gak berarti, dan dia bisa jadi gak peduli sama segala hal. Termasuk kebaikan, masa depannya, bahkan hidupnya sendiri.

 

 

YANG SEBENARNYA HARUS DIPAHAMI OLEH SETIAP ORANG TUA

Salah satu alasan kenapa orang tua membandingkan anaknya adalah untuk ningkatin rasa kompetitif. Mereka percaya itu cara yang paling “efektif” buat ngeluarin potensi dan kemampuan terdalam si anak. Padahal ada beberapa hal yang harus dipahami oleh orang tua tentang anaknya

 

#1. SETIAP ANAK ITU BERBEDA DAN PUNYA KEUNIKANNYA MASING-MASING

Orang tua juga pasti gak mau kan dibandingin dengan orang tua lainnya. Karena itu, coba deh luangin waktu untuk memahami dan mendengarkan anak biar kita tahu karakter mereka lebih jauh. Karena tugas orang tua adalah membimbing dan membantu anak untuk meraih potensi mereka secara maksimal. Jadi apresiasi kelebihan dan kekurangan yang mereka punya.

 

#2. ANAK BUKAN AKSESORIS

Anak bukan objek pencapaian pribadi orang tua yang kemudian dieksploitasi dan dipamerkan ke publik. Bedain kebanggaan dan ego. Perlakukan anak sebagai pribadi individu yang harus ditreat dengan respek.

 

#3. KEBUTUHAN DASAR SEPERTI PENDIDIKAN DAN KASIH SAYANG ITU HAK ANAK

Sebagian orang tua berpikir, dengan nempatin anak di sekolah yang bagus dan mahal itu adalah reward, berkat bantuan kebaikan hati orang tua. Padahal pendidikan ya emang hak anak dan itu udah jadi kewajiban tiap orang tua. Maka, gak seharusnya orang tua membandingkan anaknya lalu mengkaitkannya dengan apa yang sudah mereka (orang tua) “korbankan”. Ini malah bikin anak merasa “gak pantas” mendapatkan hal tersebut.

 

#4. BUAT STANDAR YANG MASUK AKAL

Apresiasi kelebihannya dan bantu mereka mengatasi kelemahannya. Daripada selalu nge-kritik yang pastinya gak akan memperbaiki situasi, lebih baik set ekspektasi yang masuk akal. Yang kita bisa melihat progres dan perkembangan si anak.

 


Foto: Shutterstock

 

Prev
Next

Bagikan artikel ke :