MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
FIRST PERIOD
PRODUCT
My Body
MY BODY

Silent Treatment Ternyata Merusak Mental Kita Lho!

 

Silent Treatment Ternyata Merusak Mental Kita Lho!

Siapa yang masih suka mendiamkan orang lain kalau kita lagi marah? Hati-hati, ternyata kebiasaan ini punya dampak negatif buat mental seseorang!

 

Dalam berteman, pacaran, atau bersosialisasi sama orang lain, kita suka berselisih paham dan bertengkar. Ada yang langsung meluapkannya lewat debat dan marah-marah, ada yang santai dan langsung akur, dan ada juga yang akhirnya melakukan silent treatment ke orang yang kita anggap menyakiti hati kita. Silent treatment sendiri merupakan tindakan mendiamkan dan bersikap acuh kepada orang yang terlibat dalam pertengkaran sama kita. Walaupun kelihatannya sepele, sikap ini ternyata masuk dalam kekerasan emosional karena terputusnya komunikasi satu sama lain yang seharusnya bisa meredakan masalah yang timbul dari bertengkar. Tindakan ini termasuk manipulatif, karena membiarkan korban silent treatment (orang yang didiamkan) jadi bertanya-tanya dan merasa bersalah dari apa yang dilakukannya, serta mematahkan usahanya untuk berbaikan dengan kita.

 

 

KENAPA ORANG-ORANG MELAKUKAN SILENT TREATMENT

Silent Treatment Ternyata Merusak Mental Kita Lho!

Silent treatment memang mudah dilakukan, tapi jelas ini tindakan yang nggak dewasa. Dilansir dari Halodoc, seseorang yang melakukan silent treatment biasanya punya alasan mengapa mereka akhirnya memilih untuk mendiamkan orang lain, bahkan hingga berlarut-larut saat mereka marah. 

Menghindar. Silent treatment sering dilakukan pada orang yang sebenarnya bingung mau meluapkan emosinya dengan cara yang bagaimana, sedangkan dirinya susah untuk meledak dan punya kebiasaan menghindari konflik. Akhirnya, mendiamkan orang jadi solusi sementara yang malah jadinya berlarut-larut.

Cara Berkomunikasi. Karena nggak tau gimana cara mengekspresikan kemarahan, silent treatment juga dijadikan cara buat ngasih tau ke orang lain kalau kita sedang marah dan kesal.

Hukuman. Ini yang bahaya dan termasuk dalam kekerasan emosional. Kalau seseorang pakai cara silent treatment buat menghukum seseorang, berlarut-larut, bahkan bikin korbannya ngerasa bersalah dan bingung untuk berdamai, tentu ini bukan tindakan sekedar menghindar atau meredam emosi, tapi malah secara nggak langsung menyiksa sisi mental seseorang.

 

 

EFEK SILENT TREATMENT PADA MENTAL SESEORANG

Silent Treatment Ternyata Merusak Mental Kita Lho!

Walaupun dianggap efektif buat meredam emosi, melakukan silent treatment ke orang lain saat lagi berantem bukan cara yang paling baik buat dilakukan. Dilansir dari Halodoc, tindakan silent treatment yang bisa jadi sebuah kekerasan emosional, yaitu ketika salah satu pihak bermaksud melukai orang lain dengan cara mendiamkannya, berlangsung untuk waktu yang lama, berakhir tanpa solusi, mencari dukungan dari orang lain atas silent treatment tersebut, menggunakan silent treatment buat menyalahkan dan membuat orang lain merasa bersalah, juga memanipulasi atau berusaha mengubah perilaku orang lain. Soalnya, Tindakan ini jelas banget nggak menyelesaikan konflik dan memutus komunikasi untuk berbaikan. Padahal, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengkomunikasikannya sampai tuntas.

Tapi karena silent treatment ini, otomatis komunikasi yang sehat jadi nggak terbentuk, karena salah satunya memilih buat diam, menarik diri, nggak ngasih tau apa yang dimau, dan justru bikin emosi jadi tambah numpuk karena pihak yang diajak komunikasi malah menghindar. Akibatnya, ini bisa berdampak sama kesehatan mental seseorang, mulai dari memendam marah, ngerasa nggak dihargai, dan tersiksa secara emosional karena konflik yang terjadi belum selesai. Apalagi kalau masalah ini dialami sama kita dalam hubungan yang cukup erat, seperti percintaan, anak dan orang tua, atau kita dengan sahabat dekat. Dari silent treatment yang berkepanjangan, akibatnya inti dari konflik yang harusnya bisa diobrolin dan dicari solusinya jadi nggak selesai dan menyisakan rasa nggak enak yang juga bertahan lama.

 

 

SUPAYA NGGAK TERJEBAK DALAM KEBIASAAN SILENT TREATMENT

Silent Treatment Ternyata Merusak Mental Kita Lho!

Selain ngaruh ke kesehatan mental, silent treatment juga bisa jadi faktor dari tindakan konflik lain, seperti terpupuknya trust issue, konflik yang sama rentan terulang, hingga rusak dan putusnya hubungan baik secara permanen. Makanya sebelum kita terus-terusan menjadikan silent treatment sebagai solusi konflik, kita bisa menghentikan kebiasaan itu dengan cara-cara berikut:

 

KOMUNIKASI TETAP NOMOR SATU

Apapun masalahnya, selalu ingat dan biasakan untuk mengutamakan komunikasi yang lancar buat memecahkan masalah. Bahkan, komunikasi yang baik juga bisa jadi cara untuk menghindarkan kita dan orang lain dari konflik.

 

UNGKAPKAN PERASAAN

Diskusikan dan bicarakan apa yang membuat kita marah dan mengganjal di hati, lalu cari solusinya bersama. Jangan sampai emosi karena satu hal (yang mungkin aja sepele) malah dipendam terus-terusan dan akhirnya memilih untuk mendiamkan orang lain sebagai hukuman biar mereka peka atau ngerasa bersalah.

 

MINTA PIHAK KETIGA UNTUK MENDAMAIKAN

Kalau kita nggak sanggup mengungkapkan dan mengatasi masalah, atau malah menjadi korban silent treatment, kita bisa lho meminta bantuan pihak ketiga yang dipercaya bisa membantu menyelesaikan masalah kita dengan orang lain, hingga bantuan tenaga professional sekalipun seperti psikolog, kalau-kalau dampaknya udah nggak sehat banget buat mental. Dengan bantuan pihak ketiga, kita bisa mendapat masukan penting yang mungkin aja nggak terpikirkan oleh kita sebelumnya sebagai solusi terbaik atas konflik yang lagi kita alami.

 


Foto: Shutterstock

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates