MY LOOKS
MY BODY
MY LIFE
WHAT'S NOW
I AM FAST 3000
SOFTEX FOR UNICEF
FIRST PERIOD
PRODUCT
My Body
MY BODY

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Kalau nggak hati-hati, informasi yang salah justru bisa ‘menyesatkan’ nih. Let’s see which informations that debunked!

 

Talking about sex, masih banyak mitos dan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat akibatnya kurangnya edukasi yang memadai tentang pendidikan seks, terutama untuk remaja seusia kita. Padahal penting banget buat kita tahu dengan baik soal seks, supaya kita nggak terjebak dengan informasi salah, dan lebih waspada sama tubuh sendiri. Happifyourworld mencoba merangkum beberapa persepsi dan kesalahpahaman yang umum seputar seks pertama kali di mata remaja berdasarkan direct message yang masuk via Instagram @Happifyourworld. Apa aja itu? Let's dig in!

  

 

MITOS 1 - DARAH HAID BISA MEMBLOKIR SPERMA

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Faktanya, melakukan hubungan seks saat menstruasi masih punya kemungkinan buat terjadi kehamilan. Memang, kehamilan terjadi begitu sel sperma bertemu dengan sel telur yang dikeluarkan saat masa ovulasi, dan proses ini terjadi setelah menstruasi (haid) selesai. Tapi yang perlu kita tau, darah menstruasi sama sekali nggak bisa memblokir sperma untuk masuk dan berenang ke arah rahim kita.

Ini karena sperma yang masuk ke vagina bisa hidup di dalam rahim selama 5-6 hari dan belum tentu keluar semua bersama dengan darah menstruasi (haid) dan mungkin banget membuahi sel telur ketika kita mengalami ovulasi nanti. Berhubungan seks saat menstruasi (haid) juga nggak higienis dan bisa ningkatin risiko terkena penyakit, seperti infeksi jamur vagina, infeksi saluran kemih, dan radang panggul.

 

 

MITOS 2 - KITA BISA TAHU SIAPA YANG MENGIDAP PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Banyak yang mengira kalau saat mau melakukan hubungan seks, kita bisa dengan gampang mengetahui apakah pasangan atau diri sendiri mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS) hanya dengan melihat kondisi kelamin aja. Padahal banyak PMS yang nggak nunjukkin gejala luar atau mungkin baru muncul dalam jangka waktu yang lama setelah tertular.

Cara paling tepat untuk mengetahui kalau kita atau pasangan mengidap PMS atau nggak, tentunya hanya bisa dilakukan dengan pemeriksaan medis, yaitu dengan tes lab dan pengawasan dari dokter. Khususnya perempuan, karena rentan terkena penyakit jadi harus rutin memeriksakan kesehatan tubuhnya. Jadi penularan PMS itu besaar banget kemungkinannya, walaupun kelihatannya sehat-sehat aja. That’s why, sebaiknya kita nggak melakukan hubungan seks secara sembarangan. 

 

 

MITOS 3 - PEREMPUAN NGGAK AKAN HAMIL KALAU SPERMA DIKELUARKAN DI LUAR

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Teorinya sih, kehamilan memang baru akan terjadi saat sperma masuk ke dalam vagina lalu membuahi sel telur di masa ovulasi. Sehingga, banyak yang beranggapan kalau melakukan hubungan seksual dan mencabut penis ke luar sebelum ejakulasi, nggak akan menyebabkan kehamilan. Tapi belum banyak yang tau kalau saat melakukan hubungan seks, laki-laki menghasilkan cairan pre-ejakulasi, cairan yang berasal dari kelenjar Cowper di dasar penis yang berfungsi melumaskan urethra supaya mempermudah sperma untuk keluar.

Cairan pre-ejakulasi dan sperma memang datang dari sumber yang berbeda, tapi menurut sebuah penelitian National Center for Biotechnology Information (NCBI) terhadap 27 laki-laki yang dikutip Hello Sehat, ditemukan 10 orang dengan cairan praejakulasi yang mengandung sperma, walaupun jumlahnya sangat kecil. Jadi, kemungkinan sperma masuk duluan ke vagina sebelum ejakulasi masih tetap ada dan ini yang bikin kemungkinan hamil walaupun sperma dikeluarkan di luar juga tetap besar.

 

 

MITOS 4 - NGGAK AKAN KENA PENYAKIT MENULAR SEKSUAL KALAU PAKAI PENGAMAN

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

Menggunakan pengaman seperti kondom saat berhubungan seksual sering digadang-gadangkan sebagai cara terbaik untuk menghindari diri dari risiko kehamilan dan penularan PMS. Tapi ternyata, efektivitas kondom hanya berkisar 80-90 persen dan berarti masih ada sekitar 20 persen risiko yang harus kita tanggung.

Dikutip dari Kompas, seseorang masih bisa berpotensi tertular PMS, terutama HIV, walaupun udah memakai kondom karena menurut  Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan kalau virus HIV masih bisa tembus melewati pori-pori kondom. Tapi penggunaan kondom tetap dianjurkan daripada nggak pakai sama sekali, walaupun proteksinya nggak terjamin 100 persen.

 

 

MITOS 5 - KONDOM BISA DIPAKAI BERKALI-KALI

Sex Education 101: Kesalahpahaman Umum Tentang Seks Pertama Kali

NO! Pakai kondom saat berhubungan seks memang meminimalisir berbagai risiko seperti kehamilan dan penularan penyakit. Tapi kalau dipakainya berkali-kali? Apa iya nggak apa-apa? Well, penggunaan kondom berkali-kali jelas salah, karena pengaman berbahan lateks ini didesain untuk sekali pakai, berbahan sangat tipis, dan tentunya udah menampung cairan sperma yang keluar. Walaupun kita berusaha untuk mencucinya dengan sabun, lalu digunakan lagi, tentunya ini malah bikin berbahaya. Soalnya, kondom yang terkena kontak dengan bahan kimia dari sabun bisa menghilangkan pelumas dan efektivitasnya, serta kemungkinan besar bocor atau sobek. Pada akhirnya, fungsi utama kondom yang harusnya mencegah sperma masuk dan mencegah penyakit menular seksual jadi nggak maksimal.

 

So, in conclusion, say no to free sex! 


Foto: Shutterstock, Freepik

Prev
Next

Bagikan artikel ke :

Get Updates