Login

Email
Password


Whatsnow

VICTIM BLAMING

30 Juli 2018

Kasus Via Vallen yang terjadi beberapa waktu lalu ngebuka mata kita kalo Indonesia pun rentan dengan victim blaming. Di mana sampe saat ini pun masih ada yang menyalahkan Via Vallen karena menganggap reaksinya ‘lebay’ dan malah ngumbar aibnya sendiri. Tapi benarkah seperti itu?

 

FYI, kasus Via Vallen berawal ketika Via membagikan screenshot direct message lewat Instagram (IG) Story bulan Juni lalu. Screenshot tersebut nunjukin pesan yang berbunyi, “I want you sign for me in my bed room, wearing sexy clothes”, identitas si pengirim pesan disembunyiin oleh Via. Via pun dengan jelas nyatain kalo dia ngerasa dilecehkan dan akhirnya ngasih bocoran kalo pengirimnya adalah pemain sepak bola yang terkenal. Tapi bukannya minta maaf, si pelaku malah mempertanyakan tindakan Via lewat DM (Direct Message), yang kemudian diupload juga oleh Via di IG story-nya. Kasus ini pun jadi viral dan rame dibicarakan oleh netizen yang mendukung dan salut sama keberanian Via untuk speak up. Tapi nggak sedikit juga yang nyinyir bahkan nyalahin Via karena dinilai cuma nyari sensasi. Sayangnya, nggak sedikit wanita yang seharusnya mendukung Via malah ikut menyalahkan atas tindakan Via tersebut.

 

Menjudge si korban tanpa dasar 

 

Membawa stigma tertentu untuk menyalahkan korban

 

Sebenarnya apa sih victim blaming itu?

Victim blaming adalah sikap yang menganggap korban kejahatan sebagai penyebab kejahatan itu sendiri, atau mudahnya, menyalahkan korban instead of mendukung dan mencari keadlian untuk si korban.

 

Kenapa victim blaming bisa terjadi?

Menurut The Guardian, Sherry Hamby, professor of psychology at Sewanee University bilang, “There’s just this really powerful urge for people to want to think good things happen to good people and where the misperception comes in is that there’s this implied opposite: if something bad has happened to you, you must have done something bad to deserve that bad thing.”

Victim blaming kurang lebih mirip seperti konsep karma. Korban disalahkan karena buah dari apa yang mereka lakukan. Menurut Psychology Today, semakin korban tidak bersalah, akan semakin tinggi ancaman (victim blaming) yang mereka dapatkan.   “What goes around comes around.” Padahal tidak seharusnya konsep karma ini diterapkan, terutama untuk para korban.

 

Kayak apa ciri perlakuan victim blaming?

Dilansir dari @dearcatcallers.id, ciri victim blaming sbb:

 

Jadi kalo kita bersikap nyalahin dan nyerang korban, bukannya ngasih support supaya si korban bisa ngatasin traumanya dan bantu dia untuk menuntut keadilan, secara nggak langsung kita ikut “mendukung” aksi pelecehan dan kekerasan seksual.

 

JADI, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN KETIKA MENGHADAPI SITUASI SEPERTI KEJADIAN VIA VALLEN?

Masih dilansir dari @dearcatcallers.id, inilah yang bisa kita lakukan:

 

LALU BAGAIMANA KALO KITALAH YANG JADI ‘VIA VALLEN’ DI KASUS INI

SPEAK UP! Dikutip dari Kompas, Via sengaja mengunggah pesan yang melecehkan dia supaya bisa mendorong dan menginspirasi semua perempuan Indonesia agar berani bersikap. "Ya tujuan saya memang untuk perempuan di luar sana, kita kalau ada tindakan kayak gini kita harus berani speak up, kita harus berani bersikap, enggak boleh diam saja," katanya. Buat Via, diam hanya akan ngasih ruang kebebasan baut pelaku untuk terus ngelancarin aksinya.

Dikutip dari BBC Indonesia, Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurhewati menilai langkah yang diambil Via udah tepat, karena udah jelas banget yang dialamin Via merupakan bentuk pelecehan seksual berbasi siber (cyber harassment). Menambahkan, dikutip dari Detik News, Adriana Venny Komisioner Komnas Perempuang juga bilang, kalau misalnya perempuan berani mengatakan kasus yang dialaminya ini juga akan memberi efek jera kepada pelaku. Naming, shaming (terhadap pelaku) memang diperlukan.”

Kalo kita melihat komen seperti, jangan diam, educated them kalo apa yang dilakukan korban untuk bicara itu sudah benar. 

 

We can’t agree more. Korban pelecehan seksual harus berani untuk speak up, walaupun pastinya nggak mudah buat dilakukan. Karena nggak bisa dipungkiri tindak pelecehan seksual, apalagi yang terjadi di dunia maya, masih dianggap sepele. Nggak cuma di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Padahal menurut catatan tahunan Komnas Perempuan, cyber harassment adalah jenis kasus terbanyak kedua yang seringkali dilaporkan. Di mana pelecehan lewat dunia maya nggak kalah jahat dari pelecehan di dunia nyata. Salah satu penyebabnya, karena banyak yang belum berpikir serius akan hukum dunia maya dan juga masih menganggap kalo dunia maya itu bebas dan bisa jadi anonim.

Untunglah di kejadian yang dialami Via Vallen banyak perempuan lainnya untuk akhirnya berani bicara dan bertindak. Keberanian untuk bicara itu penting karena bisa menular dan akhirnya bisa membuat perubahan. So, kalo kita lah yang ngalamin perlakuan seperti ini, jangan ragu dan jangan takut untuk speak up!

 

KALO KAMU PIKIR VICTIM BLAMING SEXUAL HARASSMENT HANYA TERJADI PADA CEWEK, THEN THINK AGAIN....

Yep. Victim blaming nggak cuma terjadi sama cewek aja tapi juga bisa terjadi pada cowok. Terry Crews adalah salah satu celebrity Hollywood yang sampe saat ini masih berusaha memperjuangkan keadilan buatnya atas kasus pelecehan seksual oleh Adam venit. Sejak dia berani untuk speak up, Terry nggak henti-hentinya dihujat dan dipertanyakan bahkan dipojokkan supaya nggak fighting back tentang kejadian itu. Bahkan dia sampe diejek oleh rapper 50 Cent. But that’s not stopping him. Terry akhirnya nge-respon semuanya lewat viral tweet tentang victim blaming yang dia rasain.

And its resonated, nggak cuma ke sesama selebirty bahkan orang-orang terpengaruh yang ngebawa Terry untuk ngomong di senat.

 

Satu lagi yang musti diingat, victim blaming nggak cuma terjadi pada kasus pelecehan seksual aja. Pernah mendengar atau membaca headline seperti ini “Pegawai Cantik Tewas Dibunuh, Tak Tahan Hidup Susah?” atau “Seorang Celebrity Bunuh Diri, Tak Kuat Mental?” kalo kamu pernah melihat ini then yes, that is victim blaming and we have to stop it.


Foto: Shutterstock

Related Articles

NEW IT COUPLES ALERT

03 Februari 2016

Ada banyak young power couples baru yang seru untuk kita kepoin bareng. Selain Taylor & Calvin, ada siapa lagi ya?

HAPPY CHINESE NEW YEAR WITH SANRIO

11 Februari 2016

Yuk datang ke Kota Kasablanka dari tanggal 28 Januari - 14 Februari 2016. See you there Happy Females!

The Lucky Fifty Winner

16 Februari 2016

The Lucky Fifty Winner for Januari 2016

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.